karenhurley:

Brawny Towels asked Wounded Warriors to define “what it means to be tough.” Their responses were illustrated into pieces of word art.

Advertising Agency: Moxie, Atlanta, USA Via

Achievements Unlocked 3

Sampai juga di kantor. Teman-teman langsung beranjak masuk ke kantor untuk mengambil barang dan segera lekas pulang, sedang aku masih mengecek mobil untuk ditinggal di parkiran. Ada perasaan gembira terpancar di muka teman-teman kantor setelah merasakan ‘wahana roller coaster gratis Senayan - Karawaci’, ada juga yang sudah terlihat capek. Selesai memastikan mobil dalam keadaan aman, aku pun juga beranjak naik ke ruangan kami di lantai dua.

Aku melihat Mas Adi masih asik di depan komputer, tenggelam di dalam permainan barunya, kemudian Iman memberikan souvenir dari acara pernikahan tadi. Saking gembiranya dia mendapatkan souvenir, sampai-sampai dia lupa sama permainannya. Kamu tahu kan souvenirnya apa? Mobile wifi.

Aku menyusun bangku sedemikian rupa agar bisa terlelap sejenak. Menyilangkan dan meletakkan kaki di atas meja, menyetel televisi kantor secara acak dan menikmati semburan AC. Teman-teman kantor pun mulai beranjak pulang. Tapi beberapa akan kembali ke kantor lagi untuk berangkat ke Kemayoran. Faiz terlihat sudah di depan permainan online. Aku pun mulai tertidur, tapi tak bisa karena terus memikiran perjalanan selanjutnya. Karawaci - Kemayoran. Aku mengutuk diri sendiri dalam hati.

"Bangun, Dis. Salat Maghrib lalu kita berangkat." Bang Domu membangunkan aku. Ternyata sudah maghrib dan tak ada waktu lagi karena artis kesayangan, Raisa akan tampil jam 21:30. Aku pun bergegas cuci muka dan menunaikan salat maghrib dengan terhuyung-huyung. Benar juga kata leluhur, tidur di sore hari memang tidak baik dan tidak menyegarkan.

Akhirnya kami siap, tapi sayangnya Ika tidak bisa ikut. Dia merasa tidak enak badan. Jadi hanya kami berempat yang akan ke Java Jazz Festival, aku, Ronald, Dita dan Domu. Bagus lah, semakin sedikit orang yang mengalami senam jantung. 

Mesin mobil sudah menyala, mobil kubawa keluar parkiran dengan lambat. Gerbang tol tidak jauh juga dari kantor. Well, here we go. Perjalanan tol selanjutnya. Aku menelan ludah. Berbisik berdoa.

Semua wajah terlihat sedikit serius. Aku berusaha santai, tidak mengebut tidak terlalu pelan. Berusaha untuk memasukkan persneling ke gigi 5 tapi aku memilih tidak dulu. Takut seperti kejadian sebelumnya. 

Kami sudah memasuki daerah Ibukota. Jalanan terlihat mulai ramai. Sebentar lagi kami akan keluar dari jalan tol dimana itu berarti akan semakin ramai dan sibuk lah jalanan Ibukota ini. Aku terus-terusan menelan ludah. Mata menjadi semakin awas. 

Pengendara sepeda motor menjadi perhatian aku. Tak terkecuali pejalan kaki. Mereka lebih berbahaya dibanding pengendara roda empat karena paling rentan terluka. Aku masih membawa mobil dengan santai sampai pada suatu perempatan, yah karena tipikal sifat orang Indonesia, begitu melihat timer, semakin dekat dengan angka nol, maka semakin cepat lah lajunya. Gas kuinjak lebih dalam, sialnya persis di depan ada pesepeda motor yang melaju santai. Klakson berteriak menyuruh dia supaya bergerak lebih cepat. Sial, bukannya bergegas, yang ada malah menengok ke mobil kami. Aku terus mengumpat di dalam hati dan berusaha untuk tidak panik. Mobil semakin mendekati motor dan perempatan tapi timer sudah di detik nol. Klakson semakin panjang karena aku kesal. Sekarang entah apa yang aku injak, apakah pedal rem atau pedal gas. Seisi mobil sudah panik dan meminta untuk jalan perlahan. Tapi ini tidak mungkin, aku harus melewati perempatan ini atau pengendara dari arah kiri akan menjebak aku dan kami pun akan kena tilang. Motor itu akhirnya menyingkir ke sisi kiri, gas yang tertahan pun bisa dimaksimalkan. Lepas juga kami dari perempatan. “Jadi gak ngantuk kan?” aku mencoba mencairkan suasana.

Jam di tangan sudah menunjukkan jam 20:40, beberapa menit lagi Raisa akan tampil. Teman-teman membantu mencari petunjuk arah ke Kemayoran. Gerbang masuk JIExpo sudah terlihat, namun parkiran kosong sama sekali tidak terlihat. Kami bertanya-tanya sama petugas parkir di sana. Sekarang kami sudah berada di belakang gedung JIExpo dan masih belom menemukan parkiran. Sempat putus asa sejenak dan kepanasan di dalam mobil, tiba-tiba ada satpam yang memberitahu bahwa ada lahan parkir yang lapang masih di kawasan JIExpo. Waktu sudah menunjukkan jam 21, kami pun bergegas. Orang yang harus ditemui sekarang bukan Raisa, melainkan Pak Hariswan, orang yang memberikan kami ‘tiket gratis’ ini.

Para calo terus menawarkan tiketnya sepanjang perjalanan ke arena JIExpo, Menghalangi jalan cepat kami. Bang Domu langsung memimpin jalan agar bisa melewati jalur khusus staf JavaJazz dan menemukan lokasi Pak Hariswan bekerja. Ya, tiket kami ini bukan lah free pass untuk tiga hari, melainkan tiket staf untuk bagian di back stage. Cukup melihat orang yang menjaga pintu khusus staf lalu menunjukkan ID card, kami bisa masuk ke venue yang diinginkan. Tak perlu berlama-lama mengantri di barisan penonton bukan? Setelah bertanya-tanya dengan staf Java Jazz, akhirnya kami bertemu. Tak hanya Pak Hariswan, tapi juga ada Alfie, ketua vendor yang memasang perangkat data center di kantor. Kami bersalaman, berbincang-bincang basa-basi dan berpamitan untuk segera menemui artis kesayangan, Raisa.

Setelah melewati staf penjaga venue, kami akhirnya masuk ke sebuah venue indoor yang gelap dan sangat ramai. Grup Be Three sedang tampil dengan kostum seksi bunny-nya. Warna warni sorotan lampu menghiasi penampilan atraktif mereka bersama penari latar. Aku pikir kita akan melewati venue ini, ternyata kami tetap di sini. Satu demi satu lagi dimainkan Be Three. Aku sama sekali tak hapal satupun lagi dari mereka. Mungkin Kak Dita tahu. 

Be Three pun pamit dari penonton. Panggung di sebelah Be Three mulai menunjukkan aktivitasnya. Suara Raisa terdengar lirih dari pengeras suara dan sorot lampu yang terhalang tirai hitam yang besar membuat penonton mulai merapat dan mendekat ke panggung Raisa akan tampil. Penonton dipancing agar bersorak-sorai. Suara cantik MC pun tak mempan, sehingga begitu Raisa yang memanggil dan meminta, venue indoor ini seakan bergetar. Semua penonton bersorak-sorai bahkan berteriak. Oh my. Raisa mulai bernyanyi. Cantik sekali Raisa walau dari kejauhan kami melihatnya.

Takut kemalaman, kami cukupkan menikmati penampilan Raisa di lagu ketiga. Lautan penonton kami belah. Menembus lagi gerbang khusus staf. Sekarang kami memasuki venue Telkomsel yang sepi, Fariz RM sedang gladi resik, suaranya masih bagus untuk usia yang sudah menua. Kami keluar venue tersebut, lapar mendera kami. Beruntung venue makanan tak jauh dari sana. Hot dog besar menjadi santapan kami. Bingung mau kemana lagi, kami kembali ke venue Telkomsel. Fariz RM tampil kembali, tapi kali ini dia benar-benar bermain. 

Hujan mengguyur arena JIExpo begitu kami selesai menonton Fariz RM tampil. Waktu menunjukkan jam 12 malam. Kami pun setuju untuk pulang ‘lebih cepat’ karena acara berakhir jam 3 pagi. Setelah pamit dengan Pak Hariswan, kami segera ke tempat parkiran. Muka kantuk sudah terlihat dari kita semua. Ditambah dengan hujan ini. Memang paling pas untuk langsung tidur. 

Semua sudah masuk ke dalam mobil. Aku menyisir rambut dengan jemari, berkali-kali aku menghela nafas. Bukan hanya karena khawatir, karena kantuk yang mulai menyergap tubuh ini. Kak Dita sudah terlihat ngantuk di bangku tengah. Bang Domu dan Bang Ronald juga tapi tetap memaksakan diri untuk terus terjaga, khawatir terjadi kenapa-kenapa di dalam perjalanan. Lampu mobil sudah menyala, ini menjadi perjalanan malam pertama dan menjadi perjalana di saat hujan pertama juga. 

"Indonesians have even christened the smartphone phenomenon with it’s own slang: gengsi , a word that describes someone who needs to own the latest gadget at all costs and be able to flaunt it."

(Source: thejakartaglobe.com)

Thought via Path

Rahasia tidak lagi menjadi rahasia setelah “Tapi ini rahasia ya, janji jangan bilang siapa-siapa” – Read on Path.

gothscreenshots:

Time can’t be replaced because it’s invisible.

gothscreenshots:

Time can’t be replaced because it’s invisible.

(via thisistheverge)

Video klip A Sky Full of Stars

Beruntung sekali warga Sydney kemarin! Padahal pembuatan video klip ini baru dibuat sekitar dua hari yang lalu. Ceria sekali video klip satu ini :)